RSS

Arsip Tag: nikmat

Menikmati Karunia Allah dalam Batas yang Halal

hartaAllah sama sekali tidak melarang manusia mencari kehidupan dunianya. Dunia tempat manusia hidup adalah karunia yang Allah halalkan atas setiap hamba-hamba-Nya. Nikmat yang sangat banyak dan keutamaan-Nya yang begitu melimpah itu merupakan pemberian-Nya bagi manusia dan makhluk-makhluk lain yang telah diciptakan-Nya. Allah menciptakan sekaligus memberikan rizki bagi kehidupan ciptaan-Nya.

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.(Al-Baqarah: 29)

Allah menciptakan apapun yang ada di bumi untuk manusia. Agar manusia dapat mengambil manfaat darinya. Agar manusia dapat mempertahankan hidupnya. Agar manusia dapat berfikir dan mengambil pelajaran bahwa semua itu adalah hujjah yang sangat jelas atas keagungan Penciptanya. Untuk kemudian manusia mau menghambakan dirinya hanya kepada sang Penciptanya itu, Allah ‘azza wa jalla.

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (Al-Jatsiah: 13)

Allah pun menganjurkan manusia untuk tidak melupakan nasib dunianya. Pundi-pundi keutamaan Allah di muka bumi itu boleh manusia cari dan nikmati. Syaratnya hal itu dilakukan pada sesuatu yang tidak Allah haramkan dan dengan cara yang halal. Syaratnya manusia juga bersyukur kepada Allah, karena tidak ada satu nikmat pun di dunia ini melainkan dari Allah, Rabbul ‘alamin.

كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

“Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” (QS Al-Baqarah: 60)

Kemurahan Allah yang begitu luas tersebut seharusnya membuat manusia semakin merasa kerdil di hadapan-Nya. Jika Allah yang memberinya semua itu, patutkah kemudian manusia durhaka kepada-Nya? beribadah kepada selain-Nya? pantaskah manusia berlaku sombong? Berbuat sesuatu yang Allah haramkan? Melanggar batasan-batasan-Nya?

Wallahu ‘alam wa shallallaahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad.

 Dikutip dari www.muslim.or.id

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 2, 2015 in Ilmu, Nasehat

 

Tag: , , , ,

Kuburan Adalah Awal Persinggahan Akhirat

Kuburan bukan tempat peristirahatan yang terakhir sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang, namun ia adalah awal persinggahan akhirat, dan kehidupan yang menentukan nasib hamba.

Hani Maula ‘Utsman berkata, “Utsman bin ‘Affan apabila berdiri di sisi kuburan, beliau menangis sampai basah janggutnya, lalu dikatakan kepadanya, ‘Engkau mengingat surga dan neraka tidak menangis, namun untuk ini anda menangis?’ Ia menjawab, ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ” Sesungguhnya kuburan adalah awal persinggahan akhirat, jika selamat darinya maka yang setelahnya akan lebih mudah baginya dan jika tidak selamat maka yang setelahnya lebih berat darinya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda : ”Tidak pernah aku melihat pemandangan yang amat mengerikan kecuali (siksa) kubur lebih mengerikan darinya” (HR. Ibnu Majah)

Ya, bagi orang yang beriman ia adalah tempat beristirahat dari penatnya kehidupan dunia, Abu Qatadah bin Rib’iyy Al Anshari berkata,

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lewat padanya jenazah, beliau bersabda, ‘Ada yang beristirahat dan ada yang darinya beristirahat.’ Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah yang beristirahat dan siapakah yang darinya beristirahat?’ Beliau bersabda, ‘Hamba yang mukmin beristirahat dari kelelahan dunia dan kepenatannya menuju rahmat Allah, sedangkan hamba yang fajir beristirahat darinya para hamba, negeri-negeri, pepohonan dan binatang.’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun bagi orang fasiq terlebih orang kafir ia adalah tempat yang mengerikan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Adapun orang kafir atau munafiq, ia akan mengatakan, ‘Saya tidak tahu, aku dahulu hanya mengucapkan apa yang diucapkan oleh manusia.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Kamu tidak mengetahui dan tidak pula membaca!’ Kemudian ia dipukul dengan palu besi dengan sekali pukulan di antara dua telinganya, maka ia menjerit dengan jeritan yang didengar oleh (makhluk) yang ada disekitar kuburan, kecuali jinn dan manusia.’” (HR. Bukhari).

Itu semua adalah kenyataan, bukan hanya omong kosong atau dongeng, setiap kita pasti akan meninggal dan dikembalikan kepada Allah Ta’ala, dan setiap kita benar-benar akan melihat balasan perbuatannya.

Maka, kewajiban kita adalah memikirkan apa yang akan kita siapkan untuk hari itu, ketika malaikat Munkar dan Nakir bertanya kepada kita; “Siapa Rabb-mu.. siapa nabimu.. dan apa agamamu..?” sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Diwahyukan kepadaku bahwa kamu akan difitnah (diuji) di dalam kuburan seperti atau mendekati fitnah Al Masih Dajjal, akan ditanyakan kepadanya, ‘Apa ilmumu tentang lelaki ini?’ Adapun orang yang beriman atau orang yang yakin akan berkata, ‘Ia adalah Muhammad utusan Allah, datang kepada kami membawa keterangan dan petunjuk, kamipun menjawab seruannya dan mengikutinya, ia adalah Muhammad (3 kali).’ kemudian dikatakan kepadanya, ‘Tidurlah dengan tenang, kami telah mengetahui bahwa engkau meyakininya.’”

Adapun orang munafiq atau orang yang ragu, ia akan berkata, “Aku tidak tahu, aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, maka akupun mengatakannya“. (HR. Bukhari).

Itulah keadaan di kuburan, maka tanyakanlah pada dirimu; apa persiapanmu menuju hari itu? Perbekalan apa yang telah dipersiapkan?? Ataukah dirimu masih dilalaikan dengan mengejar dunia dan perhiasannya?! Padahal harta dunia tidak akan kita bawa ke kuburan.. yang kita bawa adalah amal shalih dan ilmu yang bermanfaat.

Belum tibakah saatnya hati kita merasa takut kepada Allah?? Sampai kapan kita akan terus mengejar dunia dan melupakan kehidupan akhirat?!.. ketika ajal menjemput, disanalah lisan mengucapkan penyesalan.. namun.. penyesalan di waktu itu sudah tidak ada manfaatnya..

Oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc

Artikel: www.cintasunnah.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 3, 2012 in Ilmu, Iman, Nasehat

 

Tag: , , , , ,