RSS

Arsip Kategori: Hadits

Kuburan Itu Tak Boleh Ada Di Masjid

Moschee-Neubau in Köln

Seperti hari-hari sebelumnya jika pulang dari aktivitas di luar dan mendapati waktu sholat di jalan maka kami akan singgah di masjid itu. Kami menamakannya masjid biru di jalan Kebagusan, karena memang warnanya juga biru. Sebelah kanan masjid itu berdiri tembok kokoh dan disebelah kirinya rumah penduduk terdapat kios didepannya. Antara masjid dan rumah ada jalanan yang bisa dilewati pejalan kaki dan sepeda motor. Hari itu setelah selesai sholat tiba-tiba zaujiy menanyakan sudah berapa kali kita sholat di masjid ini? Aku menjawab seadanya, ‘’mungkin sudah diatas dua puluh kali’’. Setelah itu zaujiy memacu motornya tapi dengan arah yang berbeda dan menyusuri jalanan kecil disamping masjid sekitar 50 meter ke belakang dan apa yang terjadi. Kami hanya bisa mengucapkan istighfar berulang kali. Sungguh tak menyangka jika masjid ini ada pekuburannya. Kurang lebih sepuluh kuburan ada dalam area masjid dibagian kiblat. Itu artinya kami harus mengulang sholat yang baru kami laksanakan. Lalu bagaimana dengan sholat-sholat wajib yang pernah kami lakukan di masjid ini. Masih ingin menanyakan kepada yang lebih mengetahui ilmunya. Ada trauma dalam hati untuk singgah sholat di masjid, bagaimana tidak ini yang ketiga kalinya kami terkecoh dengan penampilan masjidnya tanpa menyelidiki semua area sekitar masjid.

Sampai saat ini saya tak habis pikir kenapa orang-orang menguburkan mayat di area masjid. Apa faedahnya? Bagi yang meninggal dan yang hidup. Begitu jauhnya umat ini dari ilmu agamanya, dari aqidah yang benar. Tentunya, kuburan itu sudah di ketahui oleh orang pengurus masjid atau orang yang dianggap ‘alim oleh masyarakat sekitar. Jika orang yang dianggap ‘alim oleh masyarakat sekitar masih juga belum memahami aqidah yang benar bagaimana lagi dengan kalangan awam dari umat.

Mari kita lihat hukum sholat di masjid yang ada kuburan di dalamnya, dihalamannya atau di arah kiblatnya dari beberapa ulama ahlussunna di bawah ini :

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz ditanya : Bagaimana hukum sholat di masjid yang di dalamnya terdapat kuburan, di halamannya atau di arah kiblatnya?

Dijawab oleh Syaikh :

Jika di dalam masjid tersebut terdapat kuburan, maka tidak shah shalat di dalamnya. Baik kuburan tersebut di belakang orang-orang shalat maupun di depan mereka, baik di sebelah kanan maupun di sebelah kiri mereka, hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Allah melaknat kaum yahudi dan kaum nashrani karena mereka menjadikan kuburan-kuburan para nabi mereka sebagai tempat-tempat ibadah” (Al-Bukhari, kitab Al-Jana’iz (1330), Muslim kitab Al-Masajid (529)

Dan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Artinya : Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan-kuburan para nabi mereka dan orang-orang shalih mereka sebagai tempat ibadah. Ketahuilah, maka janganlah kamu menjadikan sebagai masjid, sesungguhnya aku melarang kamu dari hal itu” (Dikeluarkan oleh Muslim, dalam kitab shahihnya, dari Jundab bin Abdullah Al-Bajali kitab Al-Masajid (532)

Lain dari itu, karena shalat di kuburan itu termasuk sarana syirik dan sikap berlebihan terhadap penghuni kubur, maka kita wajib melarang hal tersebut, sebagai pengamalan terhadap hadits tersebut di atas dan hadits-hadits lainnya yang semakna, serta untuk menutup pintu penyebab syirik.

Dan fatwa ulama yang lainnya, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum shalat di masjid yang ada kuburannya ?

Dijawab oleh Syaikh : Jika masjid tersebut dibangun di atas kuburan, maka shalat di situ hukumnya haram, da itu harus dihancurkan, sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat kaum yahudi dan nashrani karena mereka menjadikan kuburan-kuburan para nabi mereka sebagai masjid-masjid, hal ini sebagai peringatan terhadap apa yang mereka perbuat.

Jika masjid itu telah dibangun lebih dulu daripada kuburannya, maka kuburan itu wajib dikeluarkan dari masjid, lalu dikuburkan di pekuburan umum, dan tidak ada dosa bagi kita dalam situasi seperti ini ketika membongkar kuburan tersebut, karena mayat tersebut dikubur di tempat yang tidak semestinya, sebab masjid-masjid itu tidak halal untuk menguburkan mayat.

Shalat di masjid (yang ada kuburannya) yang dibangun lebih dulu daripada kuburannya hukumnya sah dengan syarat kuburan tersebut tidak berada di arah kiblat sehingga seolah-olah orang shalat ke arahnya, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat menghadap kuburan (HR Muslim, kitab Al-Masajid 9973) dengan lafazh : “Janganlah kalian duduk-duduk di atas kuburan dan jangan pula shalat menghadapnya). Jika tidak mungkin membongkar kuburan tersebut, maka bisa dengan menghancurkan pagar masjidnya. [Majmu Fatawa Wa Rasa’il. Juz 2, hal. 234-235]

Yang saya sebutkan di atas hanyalah hukum seputar sholat di masjid yang ada kuburannya, belum lagi kita harus mengetahui hukum seputar berdo’a, sholat dan ziarah di kuburan. Seyogyanya setiap pribadi umat Islam bersegera dan bersemangat untuk mengetahui ilmu agamanya dan tunduk hatinya pada kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berusaha memahami ilmu agama berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah serta pemahaman para sahabat dan para salafussholeh.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 30, 2013 in Hadits, Ilmu, Tauhid

 

Tag: , , ,

Keutamaan Bulan Ramadhan

Allah telah mengistimewakan bulan Ramadhan dengan berbagai keutamaan, diantaranya :

1.    Bulan Ramadhan merupakan bulan Al Qur’an

Pada bulan inilah Allah menurunkan Al Qur’an, tepatnya pada malam Lailatul Qadar. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : ‘’ Beberapa hari yang ditentukan itu (ialah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya bershiyam), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah mengehendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah: 185)

2.    Setan-setan dibelenggu pada bulan Ramadhan

Salah satu keberkahan bulan suci ini adalah dibelenggunya setan-setan durhajana, sehingga mereka tidak bias bebas leluasa memperdayai bani Adam. Rasulullah shallallahu ‘’alaihi wa sallam bersabda : ‘’Di malam pertama bulan Ramadhan dibelenggulah setan-setan dan jin-jin yang durhaka’’

Setan yang dimaksud bisa berarti setan dari kalangan jin dan bisa berarti setan dari kalangan manusia. Bisa kita lihat pada bulan ini para pelaku maksiat seakan terbelenggu dari kemaksiatannya. Tempat-tempat maksiat ditutup dan sarana-sarana kejahatan pun terkunci. Seluruh hamba, mulai dari yang paling jahat sampai yang paling shalih, berbondong-bondong menggapai maghfirah dan kemuliaan bulan ini.

3.    Pintu Jannah dibuka dan pintu Naar ditutup

Pada bulan ini Allah menutup pintu Naar dan membuka pintu Jannah. Sebagai isyarat terbuka luasnya rahmat Allah pada bulan ini bagi para hamba yang kembali kepada-Nya. Rasulullah shallallahu ‘’alaihi wa sallam bersabda : ‘’Dan (pada bulan ini) akan ditutup pintu-pintu Naar dan tak ada satupun yang terbuka. Dan dibuka pintu-pintu Jannah, tidak ada satupun yang ditutup.’’

4.    Ramadhan adalah bulan kesabaran

Pada bulan ini kita dilatih mengasah kesabaran. Rasulullah memerintahkan orang yang mengerjakan shaum agar dapat mengendalikan emosinya. Apabila ada orang yang mengejek atau mengganggunya hendaklah ia mengatakan: ‘’Sesungguhnya aku sedang mengerjakan shaum!’’ Latihan rohani seperti ini akan memunculkan kekuatan batin yang luar biasa di balik jasmaninya yang lemah karena menahan lapar dan dahaga.Bukankah Rasulullah mengatakan bahwa hakikat kekuatan itu adalah dapat mengendalikan diri di saat marah.

5.    Tersebarnya nilai-nilai kebaikan dan tertutupnya pintu-pintu kejahatan

Di bulan suci ini keinginan untuk beramal shalih akan meningkat. Seiring dengan itu, keinginan berbuat jahatpun tertahan. Rasulullah shallallahu ‘’alaihi wa sallam bersabda :’’Dan seorang penyeru akan menyerukan : ‘’Wahai orang-orang baik yang hendak berbuat kebaikan, berlombalah! Wahai orang-orang yang hendak berbuat jahat, tahanlah!’’

6.    Pembebasan dari Api Naar

Setiap malam di bulan Ramadhan Allah membebaskan hamba-hamba yang dikehendaki-Nya dari api Naar. Rasulullah shallallahu ‘’alaihi wa sallam bersabda: ‘’Dan setiap malam di bulan Ramadhan ini Allah membebaskan hamba-hamba-Nya dari Api Naar.’’

Yaa Allah, semoga kami termasuk hamba-hamba-Mu yang dibebaskan dari api Naar di bulan ini!

7.    Do’a yang mustajab di bulan Ramadhan

Di bulan suci Ramadhan, Allah memberikan kesempatan satu do’a yang mustajab bagi setiap muslim. Maka dari itu mari kita perbanyak do’a, khususnya menjelang berbuka. Rasulullah shallallahu ‘’alaihi wa sallam bersabda: ‘’Sesungguhnya Allah membebaskan hamba-hamba-Nya dari api naar setiap hari dan malam di bulan Ramadhan. Dan sesungguhnya setiap muslim memiliki satu do’a yang mustajab di bulan ini.’’

8.    Malam Lailatul Qadar

Di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar. Allah berfirman : ‘’Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al Qur’an) pada malam Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.’’ (QS. Al-Qadr: 1-5)

Disalin dari buku : ”Renungan Ramadhan” oleh Abu Ihsan Al atsari

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 26, 2012 in Hadits, Ilmu, Nasehat

 

Tag: , , , , , ,

Orang yang Berjiwa Besar

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Harta tidak akan berkurang gara-gara sedekah. Tidaklah seorang hamba memberikan maaf -terhadap kesalahan orang lain- melainkan Allah pasti akan menambahkan kemuliaan pada dirinya. Dan tidaklah seorang pun yang bersikap rendah hati (tawadhu’) karena Allah (ikhlas) melainkan pasti akan diangkat derajatnya oleh Allah.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [8/194])

Hadits yang mulia ini memberikan berbagai pelajaran penting bagi kita, di antaranya:

  • Hadits ini menganjurkan kita untuk bersikap ihsan/suka berbuat baik kepada orang lain, entah dengan harta, dengan memaafkan kesalahan mereka, ataupun dengan bersikap tawadhu’ kepada mereka (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
  • Anjuran untuk banyak bersedekah. Karena dengan sedekah itu akan membuat hartanya berbarokah dan terhindar dari bahaya. Terlebih lagi dengan bersedekah akan didapatkan balasan pahala yang berlipat ganda (lihat Syarh Muslim [8/194]). Selain itu, sedekah juga menjadi sebab terbukanya pintu-pintu rezeki (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 109)
  • Anjuran untuk menjauhi sifat bakhil/kikir. Kebakhilan tidak akan menghasilkan keberuntungan.H adits ini menunjukkan keutamaan bersedekah dengan harta. Sedekah adalah ibadah. Allah mencintai orang yang suka bersedekah -dengan ikhlas tentunya- Terkadang manusia menyangka bahwa sesuatu bermanfaat baginya, namun apabila dicermati dari   sudut pandang syari’at maka hal itu justru tidak bermanfaat. Demikian pula sebaliknya. Oleh sebab itu alangkah tidak bijak orang yang menjadikan hawa nafsu, perasaan, ataupun akal pikirannya yang terbatas sebagai standar baik tidaknya sesuatu. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Manusia itu, sebagaimana telah dijelaskan sifatnya oleh Yang menciptakannya. Pada dasarnya ia suka berlaku zalim dan bersifat bodoh. Oleh sebab itu, tidak sepantasnya dia menjadikan kecenderungan dirinya, rasa suka, tidak suka, ataupun kebenciannya terhadap sesuatu sebagai standar untuk menilai perkara yang berbahaya atau bermanfaat baginya. Akan tetapi sesungguhnya standar yang benar adalah apa yang Allah pilihkan baginya, yang hal itu tercermin dalam perintah dan larangan-Nya…” (al-Fawa’id, hal. 89)
  • Hadits ini menunjukkan disyari’atkannya menepis keragu-raguan dan menyingkap kesalahpahaman yang bercokol di dalam hati manusia.Memberikan targhib/motivasi merupakan salah satu metode pengajaran yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Hadits ini juga menunjukkan pentingnya memotivasi orang lain untuk beramal salih.
  • Anjuran untuk memberikan maaf kepada orang lain yang bersalah kepada kita -secara pribadi-. Dengan demikian -ketika di dunia- maka kedudukannya akan bertambah mulia dan terhormat. Di akherat pun, kedudukannya akan bertambah mulia dan pahalanya bertambah besar jika orang tersebut memiliki sifat pemaaf (lihat Syarh Muslim [8/194]). Di antara hikmah memaafkan kesalahan orang adalah akan bisa merubah musuh menjadi teman -sehingga hal ini bisa menjadi salah satu cara untuk membuka jalan dakwah-, atau bahkan bisa menyebabkan orang lain mudah memberikan bantuan dan pembelaan di saat dia membutuhkannya (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 109)
  • Allah mencintai orang yang pemaaf. Anjuran untuk bersikap tawadhu’/rendah hati. Karena dengan kerendahan hati itulah seorang hamba akan bisa memperoleh ketinggian derajat dan kemuliaan, ketika di dunia maupun di akherat kelak (lihat Syarh Muslim [8/194]).
    Hakekat orang yang tawadhu’ adalah orang yang tunduk kepada kebenaran, patuh kepada perintah dan larangan Allah dan rasul-Nya serta bersikap rendah hati kepada sesama manusia, baik kepada yang masih muda ataupun yang sudah tua. Lawan dari tawadhu’ adalah takabur/sombong (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)

  • Allah mencintai orang yang tawadhu’. Larangan bersikap takabur; yaitu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Tawadhu’ yang terpuji adalah yang dilandasi dengan keikhlasan, bukan yang dibuat-buat; yaitu yang timbul karena ada kepentingan dunia yang bersembunyi di baliknya (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
    Yang menjadi penyempurna dan ruh/inti dari ihsan/kebajikan adalah niat yang ikhlas dalam beramal karena Allah (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
    Ketawadhu’an merupakan salah satu sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah. Di samping ada sebab lainnya seperti; keimanan -dan itu yang paling pokok- serta ilmu yang dimilikinya. Bahkan, ketawadhu’an itu sendiri merupakan buah agung dari iman dan ilmu yang tertanam dalam diri seorang hamba (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
    Hadits ini menunjukkan bahwa manusia diperintahkan untuk mencari ketinggian dan kemuliaan derajat di sisi-Nya. Sedangkan orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa (lihat QS. al-Hujurat: 13). Dan salah satu kunci ketakwaan adalah kemampuan untuk mengekang hawa nafsu, sehingga orang tidak akan bakhil dengan hartanya, akan mudah memaafkan, dan tidak bersikap arogan ataupun bersikap sombong di hadapan manusia.

  • Hadits ini menunjukkan keutamaan mengekang hawa nafsu dan keharusan untuk menundukkannya kepada syari’at Rabbul ‘alamin. Hendaknya menjauhi sebab-sebab yang menyeret kepada sifat-sifat tercela -misalnya; kikir dan sombong- dan berusaha untuk mengikisnya jika seseorang mendapati sifat itu ada di dalam dirinya.
    Kemuliaan derajat yang hakiki adalah di sisi Allah (diukur dengan syari’at), tidak diukur dengan pandangan kebanyakan manusia
    Bisa jadi orang itu tidak dikenal atau rendah dalam pandangan manusia -secara umum-, akan tetapi di sisi Allah dia adalah sosok yang sangat mulia dan dicintai-Nya. Tidakkah kita ingat kisah Uwais al-Qarani seorang tabi’in terbaik namun tidak dikenal orang, diremehkan, dan tidak menyukai popularitas?
    Pujian dan sanjungan orang lain kepada kita bukanlah standar apalagi jaminan. Sebab ketinggian derajat yang hakiki adalah di sisi-Nya. Oleh sebab itu, tatkala dikabarkan kepada Imam Ahmad oleh muridnya mengenai pujian orang-orang kepadanya, beliaupun berkata, “Wahai Abu Bakar -nama panggilan muridnya-, apabila seseorang telah mengenal jati dirinya, maka tidak lagi bermanfaat ucapan (pujian) orang lain terhadapnya.” (lihat Ma’alim fi Thariq Thalabil Ilm, hal. 22). Ini adalah Imam Ahmad, seorang yang telah hafal satu juta hadits dan rela mempertaruhkan nyawanya demi menegakkan Sunnah dan membasmi bid’ah. Demikianlah akhlak salaf, aduhai… di manakah posisi kita bila dibandingkan dengan mereka? Jangan-jangan kita ini tergolong orang yang maghrur/tertipu dengan pujian orang lain kepada kita. Orang lain mungkin menyebut kita sebagai ‘anak ngaji’, orang alim, orang soleh, atau bahkan aktifis dakwah. Namun, sesungguhnya kita sendiri mengetahui tentang jati diri kita yang sebenarnya, segala puji hanya bagi Allah yang telah menutupi aib-aib kita di hadapan manusia… Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami

  • Islam menyeru kepada akhlak yang mulia. Islam mengajarkan sikap peduli kepada sesama dan agar tidak bersikap masa bodoh terhadap nasib atau keadaan mereka. Sesungguhnya ketaatan itu -meskipun terasa sulit atau berat bagi jiwa- pasti akan membuahkan manfaat besar yang kembali kepada pelakunya sendiri. Sebaliknya, kedurhakaan/maksiat itu -meskipun terasa menyenangkan dan enak- maka pasti akan berdampak jelek bagi dirinya sendiri. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Perkara paling bermanfaat secara mutlak adalah ketaatan manusia kepada Rabbnya secara lahir maupun batin. Adapun perkara paling berbahaya baginya secara mutlak adalah kemaksiatan kepada-Nya secara lahir ataupun batin.” (al-Fawa’id, hal. 89). Allah ta’ala telah menegaskan (yang artinya), “Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyenangi sesuatu padahal itu adalah buruk bagi kalian. Allah Maha mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui -segala sesuatu-.” (QS. al-Baqarah: 216)

  • Pahala besar bagi orang yang berjiwa besar; yaitu orang yang tidak segan-segan untuk menyisihkan sesuatu yang dicintainya -yaitu harta- guna berinfak di jalan Allah, mau melapangkan dadanya untuk memaafkan kesalahan orang lain kepadanya, serta bersikap tawadhu’ dan tidak meremehkan orang lain.

Ketiga macam amal soleh ini -dengan izin Allah- bisa terkumpul dalam diri seseorang. Dia menjadi orang yang dermawan, suka memaafkan, dan juga rendah hati. Perhatikanlah sifat-sifat dan kepribadian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya ketiga sifat ini akan kita temukan dalam diri beliau. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah teladan yang baik, yaitu bagi orang yang berharap kepada Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. al-Ahzab: 21)Di samping menyeru kepada persatuan umat Islam -di atas kebenaran- maka Islam juga menyerukan perkara-perkara yang menjadi perantara atau sebab terwujudnya hal itu. Di antaranya adalah dengan menganjurkan 3 hal di atas: suka bersedekah -yang wajib ataupun yang sunnah-, suka memaafkan, dan bersikap rendah hati/tawadhu’. Sesungguhnya, kalau kita mau mencermati kondisi kita di jaman ini -yang diwarnai dengan kekacauan serta fitnah yang timbul di medan dakwah-, akan kita dapati bahwa kebanyakan di antara kita -barangkali- amat sangat kurang dalam menerapkan ketiga hal tadi. Akibat tidak suka bersedekah, banyak kepentingan umat -khususnya dakwah- yang tidak terurus dengan baik. Akibat sulit memaafkan, permusuhan yang tadinya hanya bersifat personal pun akhirnya melebar menjadi permusuhan kelompok. Akibat perasaan lebih tinggi dan gengsi, jalinan ukhuwah yang terkoyak pun seolah tak bisa dijalin kembali. Masing-masing pihak ingin menang sendiri dan berat mendengarkan pandangan atau argumentasi saudaranya. Maka yang terjadi adalah sikap saling menyalahkan, dan kalau perlu menjatuhkan kehormatan saudaranya tanpa alasan yang dibenarkan. Kalau seperti itu caranya, ya tidak akan pernah ketemu… Bisa jadi ini hanya sekedar analisa, namun tidak kecil kemungkinannya itu merupakan realita yang ada, wallahul musta’an. Sebagian orang, setelah selesai mendengar kritikan dari saudaranya seketika itu pula ia memberikan ‘serangan balik’ kepada sang pengkritik. Padahal, nasehat yang didengarnya belum lagi meresap ke dalam akal sehatnya. Karena merasa dirinya telah ‘dilecehkan’ dia pun berkata kepada temannya, “Saya juga punya kritikan kepadamu. Kamu itu begini dan begitu…” Wahai saudaraku -semoga Allah merahmatimu- marilah kita bersama-sama berlatih untuk menerima kritik dan nasehat dengan lapang dada (lihat wasiat ke-31 bagi penuntut ilmu, dalam Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilm, hal. 268-269). Ingatlah ucapan seorang Syaikh yang mulia ketika berceramah menegaskan isi nasehat Syaikh Rabi’ bin Hadi -hafizhahullah- dalam Daurah Nasional yang belum lama berlalu di Masjid Agung Bantul Yogyakarta, “Tidak ada seorang insanpun melainkan pasti pernah terjatuh dalam kekeliruan…Namun, yang tercela adalah orang yang tetap bersikukuh mempertahankan kesalahannya.” Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang berjiwa besar, Allahumma amin. Rabbanaghfirlana wa li ikhwaninal ladzina sabaquna bil iman, wa laa taj’al fi qulubina ghillal lilladzina amanu, Rabbana innaka ra’ufur rahim.

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel http://www.muslim.or.id

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 7, 2011 in Hadits, Ilmu, Iman, Nasehat

 

Tag: , , , , ,