RSS

Wasiat Umar Bin Dzar Tentang Mengingat Kematian

18 Jul

Oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali hafidzahullahu ta’ala

An-Nadhr bin Isma’il berkata, bahwa aku mendengar Abu Dzar berkata,

“Adapun kematian, ia telah kalian kenal, dan kalian melihatnya di setiap siang dan malam.

Kematian terjadi pada orang mulia di keluarganya, terhormat di sanak familinya, dan ditaati kaumnya. Ia pergi menuju liang kering, dan batu-batu besar yang bisu. Keluarganya tidak mampu memberikan bantal kepadanya, karena bantalnya ketika itu adalah amal perbuatannya.

Kematian juga terjadi pada orang yang sedih dan terasing. Ia dirundung banyak kesedihan selama hidup di dunia, dan bekerja lama sekali hingga badannya lelah karenanya, kemudian kematian datang kepadanya sebelum ia meraih keinginannya. Kematian datang kepadanya dengan tiba-tiba.

Kematian juga terjadi pada anak yang masih menyusu, orang sakit keras, dan orang yang tenggelam dalam kejahatan. Mereka semua mendapatkan jatah kematian.

Tidaklah para ahli ibadah mengambil ibrah dari ucapan para penceramah?

Bisa aku katakan, ‘Mahasuci Allah Yang Maha Agung. Sungguh Dia menunda kematian kepada kalian hingga kalian berkesimpulan bahwa Allah lupa tidak mencabut nyawa kalian.’ Setelah itu, aku kembali memikirkan kelembutan Allah dan kekuasaan-Nya, lalu aku berkata lagi, ‘Tidak, justru Allah memberi kelonggaran kepada kita hingga akhir ajal kita, yaitu sampai hari di mana penglihatan menjadi buram, dan hati menjadi kering.’ Allah Ta’ala berfirman,

“Mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.” (Ibrahim:43)

Ya Tuhan, sungguh Engkau telah memberikan peringatan dan hujjah kepada-Mu kepada makhkuk-Mu.

Kemudian aku membaca ayat lain,

“Dan berikalah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang dzalim, ‘Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit.’” (Ibrahim: 44)

Kemudian Allah berfirman,

‘Hai orang yang dzalim, engkau hidup sampai ajal yang engkau minta, maka pergunakan ajal tersebut dengan baik sebelum ia habis. Segera gunakan ajal tersebut sebelum ia hilang. Ajal terakhir ialah melihat ajal ketika kematian datang. Ketika itulah, maaf tidak berguna lagi.’

Sesungguhnya manusia adalah target utama kematian. Barangsiapa dibidik oleh kematian dengan anak panahnya, maka lemapran anak panah tersebut tidak meleset. Dan barangsiapa dikehendaki kematian, maka keinginan kematian tersebut tidak terjadi padaorang lain.

Ketahuilah, sesungguhnya kebaikan terbesar ialah kebaikan akhirat yang abadi dan tidak hilang. Sesuatu yang abadi itu tidak sirna, dan sesuatu yang memanjang itu tidak terputus.

Orang-orang mulia berada didekat Allah Ta’ala. Mereka mendapatkan apa saja yang disukai jiwa, dan disenangi mata. Mereka saling mengunjungi yang dengan mengendarai unta. Mereka saling bertemu untuk bernostalgia tentang hari-hari mereka di dunia.

Selamat untuk mereka. Sungguh mereka telah mendapatkan apa yang mereka inginkan, karena keinginan mereka tertuju kepada Dzat Yang Mahamulia dan Mahautama.” (Diriwayatkan Abu Nua’im)

((Disalin dari kitab Min Washayas-Salafi karya Syaikh Slaim bin ‘Ied Al-Hilali, Edisi Indonesia: Wasiat-Wasiat Ulama Terdahulu, Penerjemah: Fadhli Bahri, Lc., Penerbit: Pustaka Azzam))

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 18, 2011 in Iman, Nasehat

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: